Rabu, 06 Juni 2012

Sinopsis Novel Remaja Sang Pemimpi

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum…,
Dengan memanjatkan puji syukur kepada Allah SWT atas kuasa serta rahmat, hidayah dan inayah-Nya kami dapat menyelesaikan sinopsis novel remaja ini yang bejudul “ Sang Pemimpi“ walaupun masih jauh dari kesempurnaan. Kami ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung dan berperan aktif membantu kami.
Kami juga mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan sinopsis novel kami selanjutnya, semoga sinopsis novel ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dimana pun berada.

Wassalamu Alaikum…
Mandai, 09 Desember 2011

                    Penyusun,
Daftar Isi
Kata Pengantar …………………………………………….……….….i
Daftar Isi …………………………………………………………………..ii
Mozaik 1 What a Wonderful World ……………………….....1
Mozaik 2 Simpai Keramat …………………………………..…....3
Mozaik 3 The Lone Ranger …………………………………........4
Mozaik 4 Biola Nurmi ……………………..………………...……...5
Mozaik 5 Tuhan Tahu, Tapi Menunggu …………..………….6
Mozaik 6 Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum………7
Mozaik 7 Afghanistan ………..……………………………….……..8
Mozaik 8 Baju Safari Ayahku …………...………………..…….…9
Mozaik 9 Bioskop …………………………….………………………11
Mozaik 10 Action ……………………………….……………….......13
Mozaik 11 Spiderman……………………….………….……………15
Mozaik 12 Sungai Lenggang …………………..………………....17
Mozaik 13 Pangeran Mustika Raja Brama ……………......19
Mozaik 14 When I Fall In Love …………………………..………20
Mozaik 15 Ekstrapolasi Kurva yang Menanjak ………....22
Mozaik 16 Ciputat ………………………………………………….....23
Mozaik 17 Wewenang Ilmiah …………………………….……..27
Mozaik 18 Episiklus ……………………………………………..…..30

 Mozaik 1
What a Wonderful World
Hari ini tanggal 15 Agustus 1988. Musim hujan baru dimulai, mendung menutup separuh langit. Aku gugup, jantungku berayun-ayun. Berjingkat-jingkat dibalik tumpukan es kedua kaki tak teguh, gemetar. Bau ikan busuk yang merebak dari peti-peti amis di ruangan asing ini, sirna dikalahkan oleh rasa takut. Aku, Jimbron dan Arai baru berlari dikejar-kejar seorang tokoh poling antagonis. Semuanya meniang serba tidak masuk akal. Hanya karena urusan sekolah kami bisa terperangkap di gudang es ini. Bayangan 3 orang pria berkelebat. Bayangan itu merapat kedinding. Aku tercekat menahan nafas. Dialah tokoh antagonis itu, Wakil Kepala SMA Bukan Main yang frustasi berat, Pak Mustar namanya. Ia menyandang semua julukan seram dan tata cara lama yang keras dalam penegakan disiplin.
Sebenarnya Pak Mustar adalah orang penting. Tanpa dia kampung kami tidak akan punya SMA. Namun, Pak Mustar beubah menjadi monster, karena justru anaknya yang lelaki satu-satunya tidak diterima di SMA itu. Senin pagi ini kuanggap hari yang sial. Setengah jam sebelum jam masuk. Pak Mustar mengunci pagar sekolah. Banyak siswa yang terlambat termausk aku, Jimbron dan Arai. Saat itu aku dan JImbron sedang duduk penuh gaya diatas sepeda jengkingnya yang butut. Sekelompok siswi kelas satu yang juga terlambat nongkrong berderet-deret. Hanya aku dan Jimbron pejantan di sana.
Kami segera mengeluarkan segenap tenaga daya pesona yang kami miliki.  Jimbron membunyikan klining sepedanya dan bernyanyi tidak jelas. Sedangkan aku duduk mengaduk kepalaki dengan minyak hijau ajaib tancho. Maka muncullah bongkahan jambul berbinar-binar . aku berpuar-pura menunduk membetulkan tali sepatu sehingga ketika bangkit aku dapat menyibakkan rambutku. Dan bukannya dapat simpati, para siswi didepanku menjerit histeris menatap sesuatu di belakangku. Tak sempat kusadari Pak Mustar telah berada disampingku. Pak Mustar menyentakku dengan keras hingga seluruh kancing bajuku lepas. Aku berlari kencang menyusuri terali sekolah. Tenagaku terbakar kulirik sejenak jejeran panjang tak putus-putus pagar nan ayu, ratusan siswa berteriak histeris membelaku. Mereka riuh menyemangatiku, karena mereka benci Pak Mustar. Aku meyeberangi jalan dan berlari kencang ke Utara. Jimbron dan Arai terengah-engah mengikutiku dari belakang. Kami meyelinap hingga di gudang peti es inilah kami tertangkap.
Dan kami panik tak dapat menguasai diri, ketika Nyonya Lam Nyek Pho datang, ia pemilik gudang ini. Arai mencongkel dan menyingkap tutup peti. Wajah kami seketika memerah saat bau amis yang mengendap lama meyeruak. Aku merasakan siksaan yang mengerikan ketika dua tubuh dengan berat tidak kurang dari 130 kilo menindihku. Bau anyir ikan busuk menusuk hidungku sampai ke ulu hati. Nyonya Pho dan pembantunya memasuki gudang. Peti meluncur pasar pagi yang ramai. Di punggungku kurasakan detak jantung Jimbron, lambat namun keras, gelisah dan mencekam. Berbeda dengan Arai, ia tersenyum. Menurutnya apa yang kami alami adalah petualangan yang asyik. Dan tibalah moment yang diamatis itu ketika Nyonya Pho mengangkat tutup peti dan langsung menjerit sejadi-jadinya. Kami bertiga bangkit dan serentak bangun tanpa ekspresi. Dipimpin seorang laki-laki pemimpi yang bukan main.
***
Mozaik 2
Simpai Keramat

Aria adalah orang kebanyakan. Dia selalu bertengkar dengan tukang parkir sepeda karena uang dua ratus perak. Namun, sungguh malang nasibnya. Waktu kelas satu SD ibunya wafat karena melahirkan adiknya yang juga meninggal. Menginjak kelas tiga SD ayahnya juga wafat. Arai menjadi yatim piatu dan dipungut oleh keluarga kami.
Orang melayu memberi julukan Simpai Keramat pada Arai untuk orang terakhir yang tersisa dari satu klan atau dari satu garis keturunan keluarganya. Ayah-ibunya merupakan anak tunggal dan kakek neneknya dari kedua orang tuanya juga telah tiada, hanya tinggal ia sendiri dari satu garis keturunan keluarganya.
Aku mengamati Arai. Kelihatan jelas kesusahan telah menderanya sepanjang hidup. Ia seusia denganku tapi ia tampak lebih dewasa, sinar matanya jernih dan polos sekali. Lalu tak dapat kutahankan air mataku mengalir. Aku ingin tertawa sekeras-kerasnya. Tapi, aku juga ingin menangis sekeras-kerasnya.
***
Mozaik 3
Tha Lone Ranger

Aku dan Arai ditakdirkan seperti sebatang jarum diatas meja dan magnet dibawahnya. Sejak kecil kami melekat kesana kemari. Arai adalah saudara sekaligus sahabat terbaik buatku. Ia selalu melindungiku, sikap itu tercermin dari hal-hal paling kecil. Dan seperti kebanyakan anak-anak Melayu miskin dikampung kami yang beranjak remaja mulai bekerja mencari uang. Arai-lah yang mengajariku mencari akar banar untuk dijual kepada penjual ikan. Dia juga yang megajariku mengambil akar purun yang kami jual pada pedagang kelontong untuk mengikat bungkus terasi. Mengingat masa lalunya yang pilu, aku kagum pada kepribadian dan daya hidupnya.
Setiap habis magrib, Arai melanjutkan membaca ayat-ayat suci Al-Qur’an. Jika Arai mengaji, aku bergegas menurun tangga, kemudian aku berlari sekuat tenaga merabas ilalang menuju lapangan dan berteriak sejadi-jadinya. Demikianlah, arti Arai bagiku. Maka, sejak Arai tinggal dirumah kami, tak kepalang senang hatiku. Aku semakin gembira karena kami diperbolehkan menempati kamar hanya untuk kami berdua walaupun kamar itu hanyalah gudang peregasan, jauh lebih baik daripada tidur ditengah rumah, bertumpuk-tumpuk seperti pindang bersama abang-abangku yang kuli, bau keringat dan mendengkur.
***
Mozaik 4
Biola Nurmi

Sore yang indah. Seorang wanita gemuk berjilbab yang matanya bengkak, memasuki pekarangan. Wanita malang setengah baya itu Mak Cik Maryamah datang bersama putrinya, mata mereka bengkak, semuanya habis menangis. Sudah tiga minggu ini Mak Cik datang meminjam beras. Keluarga kami memang miskin, tapi Mak Cik lebih tidak beruntung. Ibuku member isyarat dan Arai memberikan karung berisi beras kepada ibuku yang kemudian melungsurkannya kepada Mak Cik. Mak Cik menerimanya dengan canggung dan berat hati. Lalu Mak Cik menatap Nurmi, wajahnya menanggungkan perasaan tak sampai hati. Nurmi memeluk biolanya kuat-kuat, air matanya mengalir. Ia mendekati ibuku lalu menyerahkan koper biolanya. Ibuku tersenyum dan menolaknya. Nurmi cepat-cepat menarik tangannya dan memeluk biolanya. Tiba-tiba Arai menyeretku kegudang peregasan, aku tak mengerti waktu Arai bergegas membuka tutup peregasan, mengambil celengan ayam jagonya dan tanpa ragu menghempaskannya. Lalu memasukannya kedalam karung gandum. Kami berlari menuju sepeda sambil menenteng karung gandum yang berat gemerincing. Lalu bersepada menuju teko A siong. Kami memasuki toko yang sesak. Lalu Arai menghampiri istri A siong. Nyonya ini sedang mengepang rambut putrinya, Mei-mei. Arai menumpahkan isi karung gandum tadi diatas meja kaca. Ia ingin membeli gandum, terigu dan lain-lain. Aku terkejut tak kepalang. Arai marah karena alasannya kupotong terus. Aku melompat menuju tumpukan koin, membuka karung gandum dan memasukkan koin itu kembali. Arai tak tinggal diam. Ia memintingku dari belakang dan memepetkan tubuhku ke lemari dagangan tembakau. Tiga karung kertas yang berisi kapuk. Berjatuhan dari rak lemari tembakau dan pecah berantakan. Mei-mei menangkap awan-awan kecil yang berjatuhan. Lalu menari berputar-putar bersama ibunya. Aku dan Arai bersandar kelelahan. Dibawah hujan salju yang memesona pertikaian kami telah berakhir dengan damai.
Kami kembali bersepada dengan tergesa-gesa, membawa karung gandum dan terigu. Aku masih tak mengerti maksud Arai waktu memasuki pekarangan rumah Mak Cik Maryamah. Arai menyerahkan karung tadi kepada Mak Cik. Beliau terkaget-kaget. Lalu aku mendengar rencana Arai : Dengan bahan-bahan itu dimintanya Mak Cik membuat kue dan kami akan menjualnya. Aku menunduk dan memeluk lututku yang tertekut. Aku merasa sangat malu pada diriku sendiri. Sejak itu, aku mengenal bagian paling menarik dari Arai, yaitu ia mampu melihat keindahan dibalik sesuatu keindahan yang hanya biasa orang temui didalam mimpi-mimpi. Maka, Arai adalah seorang pemimpi yang sesungguhnya, seorang pemimpi sejati.          *** 
Mozaik 5
Tuhan tahu, tapi menunggu

Aku dan Arai beruntung sempat melihat aksinya. Waktu kami masih kelas empat SD. Ia sungguh pria tua jempolan, A Put namanya. Terpesona aku dibuatnya, kami merasa beruntung sempat menyaksikan kepawaian    A Put sebab ketika ia wafat ilmunya terkubur bersama dirinya. Tak ada yang mewarisinya. A Put adalah dokter gigi kampung kami. Dukun gigi lebih tepatnya, ia mampu menyembuhkan sakit gigi, tanpa meyentuh gigi busuk itu bahkan tanpa melihatnya. Alat diagnosisnya hanya sepotong balok, sebilah palu dan sebatang paku.
Para tetua Melayu kasak-kusuk dan pagi-pagi sekali esoknya mereka mengantar senampan pulut panggang. Jika A put memakan pulut panggang itu, maka saat itu pun ia dilantik menjadi kepala kampung. Demi kraniah prosesi dikampung kami, sangat fungsional. Saat ini yang memimpin kampung kami adalah Taikong Hamim, ia dicinta dan berkuasa karena Legitimasinya penuh, ia adalah penggawa masjid. Mereka lebih kejam dari orang tua kami, sebab merekalah yang mengajari orang tua kami mengaji. Aku dan Arai sering dihukum Taikong Hamim. Karena napasku tak panjang kalau mengaji. Arai lebih parah karena terlambat shalat subuh. Ia disuruh berlari mengelilingi masjid sambil memikul gulugan kasur.
Dalam kancah kawah candradimuka itulah, kami mengenal Jimbron. Jimbron adalah seseorang yang membuat kami takjub dengan tiga macam keheranan. Pertama, kami heran karena kalau mengaji ia selalu diantar seorang pendeta. Yang kedua, Jimbron sangat menyukai kuda. Dan yang ketiga, Jimbron senang bukan main dengan hukuman. Meskipun Jimbron gembira degan hukuman apapun yng berhubungan dengan kuda, bagi kami Taikong Hamim tetap antagonis. Maka dengan segala cara, kami berusaha membalas Taikong, otak pembalasan ini tentu saja Arai. Cara yang paling aman, sehingga yang paling sering dipraktikan Arai adalah mengucapkan “Amin” dengan sangta tidak tuma’ninah. Setiap Taikong Hamim menjadi Iman salat jama’ah tiba pada bacaan terakhir Al-Fatihah. Maka Arai langsung menyambut dengan lolongan seperti serigala mengundang kawin. Aria meliuk-liukkan suaranya dan terang-terangan merobek wibawa Taikong.
Kejahatan ini aman menurut Arai karena Taikong tidak bisa menentukan siapa pelakunya diantara ratusan anak-anak di saf belakang. Taikong Hamim memang tidak tahu tapi Tuhan mencacat dan Tuahn akan membalas. Seperti kata Leo Tolstoy : Tuhan tahu, tapi menunggu.
***
Mozaik 6
Aku Hanya Ingin Membuatnya Tersenyum

Karena di kampung orang tuaku tak ada SMA, setelah tamat SMP merantau ke Magai untuk sekolah di SMA Bukan Main. Anak-anak terpaksa berhenti sekolah dan tak punya pilihan selain bekerja untuk membantu orang tua sejak PN Timah Belitong terancam kolaps dan di PHK. Anak-anak yang kuat tenaganya menjadi pendulung timah, sedangkan yang masih bersemangat sekolah umumnya bekerja di warung mie rebus, mencuci piring atau seperti aku, Arai dan Jimbron, menjadi kuli Ngambat itu berasal dari kata menghambat, yaitu menunggu perahu nelayan yang tambat. Selain anak-anak yang tekad ingin sekolahnya sekeras tembaga, pemangku jabatan kuli ngambat umumnya adalah mereka yang patah harapan, tak diterima kerja dimana-mana.
Setiap pukul dua pagi, kami sempoyongan memikul berbagai jenis makhluk laut yang sudah tersaji di meja pualam stanplat pada pukul lima pagi, sehingga pukul enam ibu-ibu telah menyerbunya. Artinya, setelah pukul enam kami leluasa untuk sekolah, setiap pagi kami seperti semut kebakaran. Namun sampai di sekolah, semua kelelahan kami serta- merta lenyap seketika di hisap oleh daya tarik tampan ini,  Kepala Sekolah sekaligus guru kesusteraan kami  Bapak Drs. Julian Ichsan Balia sungguh membuatku, Arai dan Jimbron terpesona.
Adapun setiap minggu pagi Jimbron menhambur ke Pabrik Cincau. Dengan senang hati ia menjadi relawan pembantu Laksmi. Tanpa diminta ia mencuci kaleng-kaleng mentega plamboom wadah cincau itu jika isinya telah kosong dan ikut menjemur daun-daun cincau. Sering pula Jimbron datang ke pabrik membawakan Laksmi buah Kweni dan pita-pita rambut. Jimbron ingin sekali, bagaimanapun caranya agar meringankan beban Laksmi meskipun hanya sekadar mencuci baskom. Kadang-kadang dengan penuh semangat memamerkan aksesoris baru sepeda jengkinya pada kulit kambing di dapatnya dari bedug apkir atau sepatunya yang ia pasangi ladam jadi seperti sepatu kuda. Laksmi hanya menggelengkan kepalanya.
Bertahun-tahun sudah Jimbron berusaha menarik Laksmi pada jebakan perangkap kesedihan. Jimbron sering pula menghampiri Pak Balia untuk meminta cerita-cerita komedi, namun setiap Jimbron menceritakan cerita lucu, Laksmi hanya terdiam saja bahkan telah lupa cara tersenyum. Kami mulai cemas, menurut kami, sudah saatnya Laksmi di tangani orang yang ahli. Setiap kami singgung hal itu pada Jimbron, dengan tujuan agar dia tidak kecewa agar tak terlalu memendam harap, ia terpuruk-puruk dalam sekali. “ Aku hanya ingin membuatnya tersenyum…” katanya berat.
***
Mozaik 7
Afghanistan

Di televisi balai desa kami menyimak ulasan Ibu Toeti Adhetama tentang Patriot Muda Muhajidin yang baru menumbangkan Komandan Resimen Tentara Merah Rusia, pemuda itu Oruzgan Mourad Karzani berasal dariklan karzami dan putra Zahid Jirga Karzani seorang imam terpandang di bagian lain Afghanistan. Baloch yang secara turun-temurun melawan Inggris sampai terbunuhnya Komandan Rusia.
Di lembah Towraghondi sona perang, 200 meter luas garis batas Afghanistan dan Turkmenistan. Oruzgan yang baru seusia aku, Arai dan Jimbron (17 tahun), pemimpin pasukan elite Muhajidin yang baru usia belia.
Terbunuhnya Komandan Resimen Utara Tentara Merah disebut kembali zona utara dari Tentara Merah, Oruzgan disambut baik Pahlawan, dalam waktu singkat telah menjadi imam besar Baloch. Sayangnya, karena Friksi dengan Taliban. Ia dan pengikutnya harus hengkang dari Afghanistan dan mendapat suaka di Negara asing.
Ketika menonton berita pertempuran di Towraghond terjadi pula pada aku dan Arai, ketika kami dikejar Pak Mustar sampai Gedung Peti Es pada 15 Agustus 1988, menjadi potongan mozaik hidup kami. Hari itu langit telah mengisap teriakan ikan duyung sang capo seperti teriakan Arai yang secara langsung berujar Amin membalas Taikong Hamin. Langit diam menyimpannya, aku dan Arai hanyut pelan-pelan dan di hari nanti menumpahkan kutukannya ke tubuh kami. 
***
Mozaik 8
Baju Safari Ayahku

Ibuku, jelas lebih pintar dari ayahku, paling tidak ibuku bisa menuliskan namanya dengan huruf latin ketimbang ayahku yang menulis dengan huruf Arab Gundul. Tanda tangannya pun seperti huruf shot dalam Arab.
Ayahku adalah pria yang sangat pendiam, namun hingga usiaku sekarang telah jadi anaknya. Aku belajar bahwa pria pendiam sungguh memiliki rasa kasih sayang yang lebih dari pada pria sok pengatur.
Saat hari pembagian rapor, ayahku cuti dua hari. Tanpa banyak cincong, hari pertama ayahku mengambil sepatu kulit buayanya lalu dipoles dengan minyak rem yang dicampur tumbukan arang. Ikat pinggang motif ular disemir istimewa dan kaos kakinya di jemur pula, setelah itu sepeda Ralli Robinson made in England-nya dikeluarkan kemudian diperiksa dengan teliti dan tak lupa mendapat kehormatan dipoles ramuan semir merek beliau sendiri. Sepeda ini dibeli oleh kakeknya pada tahun 1920.
Dan yang terakhir hanya untuk acara yang sangat penting Baju safari 4 saku ! Baju ini adalah bonus dari PN Timah yang  ayahku diangkat sebagai kuli tetap. Kemudian ibuku, memotong kain putih bergaris-garis htam itu menjadi lima pasang sehingga pada Hari Raya Idul Fitri kami memakai baju seragam itu bersilahturahmi keliling kampung seperti rombongan petugas cacar.
Ibu pun tak kalah repot. Sehari semalam telah merendam daun pandam dan kenangah untuk dipercikkan dibaju ayahku saat di setrika dan persiapan itu ditutup dengan mencukur rambut dan kumis ayahku. Disana ayahku memperlihatkan amplop undangannya, beliau hanya berbicara sedikit saja kepada kawan dekatnya pejabat politik Masjid Al-Hikmah. Tapi bagi ayahku tujuh kata itu  “ Besok aku mengambil rapor Arai dan Ikal “ dan hanya 34 karakter itu sudah cukup baginya.
Pada hari pembagian rapor ayah dan ibuku telah menyiapkan segalanya kemudian ibuku menyampirkan karung timah berisi botol air minum dan handuk untuk menyekah keringat. Lalu beliau bersepeda ke Magai, SMA Negeri Bukan Main, sejauh 30 km untuk mengambil rapor anak-anaknya.
Di bawah rindang dedaunan , sejak pagi aku dan Arai menunggu ayahku yang menuntun sepedanya mendaki dan menuruni bukit Semilar. Tapi tak mengapa, sebab kesusahan beliau akan kami obati disini. Di Aula itu, Pak Mustar mengurutkan dengan teliti dan mencantumkan nomor ranking pada kursi orang tua murid, bukan Pak Mustar kalau tidak harus sperti itu. Kebetulan aku urutan ketiga dan Arai urutan kelima dan Jimbron dikursi tujuh puluh delapan untuk mempersembahkannya kepada Pendeta Geo. Diakhir pembagian rapor akan diakhiri dengan makian orang tua kepada anaknya, metode ini memang keras tapi sangat efekif.
Aku dan Arai tersentak berdiri ketika melihat sepeda ayahku, ketika dia telah sampai beliau berucap “ Assalamu Alaikum “ tak ada kata lain lalu menupuk pundak kami dengan senyuman yang menawan lalu berjalan tenang memasuki aula dan mencari kursi nomor tiga, ketika nama ayahku dipanggil sebanyak dua kali beliau mendapat sambutan tepuk yang menggelegar, tidaklah buruk seorang sekop di Wasrai dipanggil oleh Kepala SMA Bukan Main. Saat itu adalah moment terbaik dalam hidupnya.
Selesai menerima rapor aku menantikan moment yang paling kutunggu saat bergantian menatap kami sambil menyiratkan bahwa kami adalah pahlawan baginya , senyumnya itu seperti ucapan terima kasih kemudian mengucap salam “ Assalamu Alaikum ”, lalu beliau beranjak pulang mengayuh sepedanya lagi sejauh 30 km. Kupandangi beliau, sungguh betapa aku mencintai laki-laki pendiam itu. Setiap dua minggu aku bertemu dengannya, tapi setiap hari aku merindukanmu ayah.
***
Mozaik 9
Bioskop

Berbagai bangsa telah merapat ke Dermaga Magai, jika musim buah mereka membawa kweni, pisang dan manggis dan menjulnya pada penumpang di stanplat lalu pulang ke pulau-pulau kecil yang tersebar di Belitong Timur membawa minyak tanah dan  beras sambil memakai sarung dan itulah adatnya yang kukenal. Hiburan paling top di Magai yaitu memutar film dua kali seminggu, dari speaker TOA-lah aku tahu sebuah kata mutiara “ Masa Muda Masa yang Berapi-api dari Rhoma Irama”  yang terus diputar selama tiga bulan. Adat yang kukenal yang lain adalah mereka selalu memohon terus memutar film Beranak Dalam Kubur sampai filmnya keriting dan hangus tak dapat diputar kembali. Gedung bioskop itu berada persis di depan los depan kontrakan kami, tapi kami tidak berani meliriknya, sebab Pak Mustar sangat melarang keras menonton bioskop itu sampai-sampai tak ada siswa yang mendekat.Saat itu kami baru pulang sekolah dan sedang santai depan los kontrakan kami. Kali ini aku terlalu lemah melawan daya racun getah testosterone, akar segala kejahatan yang menyerang anak-anak Adam yang beranjak dewasa. Dan dai kehari kami terus dibayangi wanita itu seakan-akan ingin rasanya masuk dan menemuinya didalam bioskop tua itu. Berhari-hari kami berjuang , ternyata perjuangan kami sungguh tidak mudah sebab, kami gagal membujuk A Kiun, gadis hokian penjual tiket dan kami juga gagal menghasut Pak Cik Basman, tukang sobek karcis, agar menyelundupkan kami ke dalam bioskop dengan memmbayar dua kali lipat, justru kami malah kena marah.
Kami frustasi. Dorongan untuk menyaksikan nasib carik merah itu menggebu tapi kami tak tahu cara masuk. Kami benci menjadi anak sekolah yang tak kunjung dewasa. Dan tanpa disadari oleh kasat mata kami, ide brilian datang didepan mataku dan Arai. Hanya Jimbron yang selalu kapasitas akalnya diragukan justru melihat solusi itu. Suatu malam, ketika orang berkerudung sedang antre, dia menghambur ke dalam los kontrakan, mengangetkan aku dan Arai yang sedang tidur. Ia menunjuk-nunjuk orang –orang bersarung, tangannya member isyarat seperti orang menudungi kepala dengan sarung. Dan kami segera paham maksudnya. Kami melonjak-lonjak “kamu genius Jambron”. Kami akan masuk dengan meyamar sebagai orang berkerudung !!. Esoknya kami sibuk mencari sarung yang paling bau yang berbulan-bulan tak dicuci agar A Kiun dan Pak Cik tak betah dekat-dekat kami. Betapa sempurnanya penyamaran kami. Sarung busuk ini kami tudungkan di kepala dan tepiannya menutupi wajah sehingga tampak hanya mata dan sedikit lubang hidung saja. Sungguh malam ini amat menyedihkan.
Aku gugup ketika mendekati loket karcis yang berjeruji. Suaraku mengumam tak jelas waktu menyodorkan uang receh sambil menunjukkan tiga jari, A Kiun mendadak memundurkan kursinya karena semerbak bau sarungku. Mukanya merah dan cepat-cepat menyerahkan karcis. Tahap pertama sukses kemudian kami melewati tukang sobek karcis Pak Cik Basman dan ternyata mudah sekali, ia langsung menutup hidung dan cepat-cepat menyobek karcis kami. Seketika itu kami telah berhasil kedalam bioskop dan mengambil tempat duduk ditengah, kami terpesona melihat adat-istiadat dalam bioskop orang dewasa .
Sebelum duduk, sebagian dari penonton menyemprotkan semprotan serangga untuk menghindari gigitan tuma. Ada pula yang menggerus kapur barus dan menebarkan garam mengelilingi tempat duduk mereka agar terhindar serbuan kecoa. Inilah film Indonesia, inilah bioskopnya, dan inilah penontonnya. Lagu instrumen “ Sepatu Kaca Cinderella “ sentak terhenti dan lampu dimatikan, kami leluasa membuka kerudung, film pun dimulai dengan adegan seorang bapak gendut, nyonya rumah dan kedua anaknya sedang makan dan seekor anjing pudel yang berlari-lari  mengelilingi meja makan. Kami terkejut karena dibalik tirai muncullah wanita diposter itu sambil membawa dandang nasi, kami langsung tau bahwa wanita itu berperan sebagai babu, kami juga langsung tau bahwa cerita ini soal sang majikan yang gendut botak itu menggoda babunya. Benar saja jika Nyonya rumah pergi ke salon, anak-anak berangkat ke sekolah sang majikan beraksi.
Aku, Arai dan Jimbron tidak menghiraukan penonton yang gaduh dalam pertentangan, kami semakin tegang mengikuti adegan tak senonoh di lokasi jemuran cucian dan agaknya kamera suadah akan menyorot Si Carcik Merah yang sekarang sudah tak bercarcik, seru !!! Inilah moment puncak yang kami tunggu-tunggu, tapi sial 3 bayangan gelap manusia tiba-tiba menghalangi pandangan kami. Ketiga sosok yang diikat sekali di depan kami itu memakai jaket kilat hitam murahan yang dikenakan polisi intel. Salah satu sosok itu menoleh kepada kami dan aku tak percaya apa yang kulihat di depan hidungku. Ia Pak Mustar. Kepalaku pening, perutku mual karena ketakutan. Aria pais, pucat pasif seperti mayat. Dan Jimbron menggigil hebat. Ia tergagap-gagap tak terkendali, masih sempat pula ia menutup mata kepalanya dengan sarung. Kami menciut. Seisi gedung bioskop teriak membisu. Jangan kan kami, bahkan seluruh penonton tak berkutik dibuat Pak Mustar. Ia memang tokoh disegani siapa saja.
Pak Mustar dan penjaga sekolah menggelandang kami seperti ternak. Kami ketakutan tak berdaya. Di layar muncul slide dengan tulisan spidol “ Hadirin…hadirin, maaf pilem perai sebentar, anak sekolah tertangkap, ttd A Kiu…” Sebelum meninggalkan kami, dipintu bioskop Pak Mustar masih sempat melontarkan ancaman dengan dingin. Ancaman yang membuat kami tidak bisa tidur dua malam berikutnya. “ Ingin tahu seperti apa neraka dunia ?? Lihat saja di sekolah hari Senin pagi, Brandal !!! ”
***
Mozaik 10
Action

Pak Cik Basman dan A Kiun berdiri rapat di pintu keluar bioskop. Mereka memanndang kami dengan perasaan bersalah, kami mendengar bahwa Pak Mustar mengetahui kelakuan kami di peti es tempo hari. Tapi ia tak mau ribut karena harganya dirinya terlalu tinggi untuk mengakui ia telah diperdaya kegeniusan Arai.
Malam minggu ini, tukang jagung yang telah bertahun-tahun bercokol di depan bioskop melihat sarung gengan motif yang beda. Baunya pun lain, bukan seperti bau sarung orang pulau yang bau laut. Ia tahu tiga pendatang harum telah menyelindip ke dalam bioskop bobrok itu. Pak Mustar yang iseng mematroli siswanya sedang bernasib baik. Ia dilapor oleh tukang jagung sambil tersenyum padanya dan dari fortuna tersenyum pada Pak Mustard dan kami dikhianati. Maka kami tertangkap tangan, maka kata yang lebih tepat adalah kami mengkhiNti diri sendiri. Berita itu dengan cepat menyebar seantero maya, seketika los kontrakan kami penuh para tamu. Kami yang berhasil menonton film itu, mereka anggap sebagai ziarah yang abru pulang dari Babylonia dan membawa kabar yang akan memuaskan   pentas hewan mereka. Ketika mereka pulang kami terus terbayang-bayang hukuman Pak Mustar yang memiliki waktu dua hari umtuk memikirkan pembalasan demdamnya yang memuncak untuk ditumpahkan kepada kami pada hari Senin, saat seluruh warga SMA Bukan Main apel pagi.
Senin pagi, aku, Arai dan Jimbron dibariskan terpisah. Kami hanya menunduk pasrah menunggu putusan hukuman. Aku takjub pada fluktuasi popularitasku yang pernah menjadi anak Melayu kampung yang tak dipedulikan siapa pun, lalu menjadi antelop Tibet yang di elu-elukan gadis-gadis Semenanjung dan kini semua orang seakan berkonspirasi. Di lapangan ini nasibku di ujung tanduk.
Di tengah lapangan sekolah Pak Mustar telah menyiapkan lokasi shooting. Tali jemuran beliau di sambungkan antara dua pohon burgar dan disana tersampir cucian penjaga sekolah. Beliau juga menyiapkan property berupa sebuah  bangku untuk anjing pudel duduk dan hal yang memalukan adalah melakukan casting yang brilian yaitu aku sebagai babu, Jimbron yang gemuk tentu saja sebagai majikan  dan Arai sebagai anjing pudel. Sungguh aku tak sanggup melakukannya. Benar-benar memalukan. Aku demam panggung, tapi bagaimana pun kami merasa ini lebih baik daripada dikeluarkan dari sekolah. Arti pendidikan kami, arti sekolah ini bagi ayahku dan senyum kebanggan beliau yang tersenyum di sudut kepalaku, membuatku kuat maju lokasi shooting. Dan ketika kami melangkah siap berakting tepuk tangan bergemuruh. Pak Mustar menjelaskan jalan cerita film tersebut, yang amat beliau benci. Penonton laki-laki harus mendukung sang majikan “Jimbron” dan penonton perempuan harus mendukung sang pembantu seksi “Aku” dan Arai sebagai anjing pudel harus melolong saat sang majikan berhasil menggangali pembantunya. Para penonton syot antusias. Belum apa-apa mereka sudah sakit perut. Di balik pohon bugar aku siap dengan sekeranjang cucian. Di sana, Jimbron bersembunyi mengintaiku di balik jemuran dari istri penjaga sekolah, siap menyerbu.
Baru saja kumulai, tawa penonton semakin keras waktu Jimbron mengejarku dan aku berlari berliuk-liuk di antara jemuran sedangkan wajah Arai yang jenaka, model rambutnya dan suaranya yang keras sangat mirip dengan anjing pudel. Peran itu sangat pas untuknya. Penonton terbahak-bahak melihat Arai digerakan seperti robot anjing oleh Pak Mustar, tapi aku heran karena tanpa diminta Pak Mustar, ia menyalak-nyalak karena Nurmala meranjak kedepan dan terpingkal-pingkal menunjuk-nunjuk Arai.
Akhirnya aku bangkit dan bertekad menghayati peranku, melenggak-lenggok dengan gaya yang seksi seperti saat pembantu semlohai di film murahan itu dengan ekspresiku meniru seorang wanita. Dan tahukah kamu, para penonton tertawa melihatku sampai-sampai air matanya keluar. Sebaliknya, Jimbron sangat aneh. Ia sangat menikmati perannya, otak tumpulnya sama sekal tak sadar kalau dirinya sedang dikerjaiin Pak Mustar. Ia benar mengajarkan, bersemangat ingin menerkaraku. Begitupun Arai yang tidak peduli lagi dipermalukan karena Nurmala memerhatikannya. Kadang-kadang ia menggeram penuh gaya adahal di film sang pudel tidak beegitu. Lapangan sekolah beriuh rendah oleh suara ratusan manusia menyaksikan hburan kocak palng spektakuler. Mereka melonjak-lonjak tertawa, sampai terduduk melihat aku terbirit-birit fikejar Jimbron yang serius ingin memerkosaku. Dan para penonton mencapai puncak listeria, terbahak-bahak sampai berguling-guling saat Jimbron  berhasil menangkapku. Ia menindihku rapat-rapat, tubuhnya yang gendut penuh gairah di atasku yang terjepit berdenyik-denyik, dan Arai yang berdiri di bangku seperti tupai melolong-lolong panjang dan merdu.               “ Auuffhh,,,Auuuffhh,,,Auuufhhh…”.
***
Mozaik 11
Spiderman

Jika kita ditimpah buah nangka itu artinya memang kita harus ditimpah buah nangka. Tak dapat, sedikit pun dielakan. Nah, kawan dengan mentalitas seperti itulah Jimbron mempersepsikan dirinya. Menerima hukuman apa pun dari Pak Mustar, Jimbron ikhlas saja. Lapangan suasana hati Jimbron dapat diketahui dari kelancarannya berbicara. Sambil mengalungkan selang, menentang ember seng besar, wajah jenaka buah menteganya riang gembira. Ia bahkan tak terganggu sedikit pun dengan bau busuk WC lapak itu. Setiap menunduk untuk menyikat lantai WC aku menahan nafas. Aku jengkel setengah mati pada Jimbron yang menikmati hukuman ini. Aku benci pada senyum kekagumannya pada kuda saat aku menderita. Aku juga sakit hati pada Pak Mustar yang ketat mengawasi pekerjaan kami. Sementara nun tinggi dilangit-langit WC ada manusia laba-laba. Spiderman Arai sedang merayapi plafon. Tubuhnya diikat tali-temali, ia menyumpah-nyumpah sambil mengikis kotoran kelelawar. Sungguh hukuman yang mengirikan.
Karena bau pesing yang tak tertahankan, aku bekerja sambil menahan nafas. Aku megap-megap seperti ikan terlempar dari akuarium, menggelepar di atas ubin ini. Darahku mendidih. Aku mencapai puncak emosi seketika Jimbron terus saja berkekeh-kekeh menceritakan kuda-kudanya itu. Hingga batu karang kibaranku terbelah. Aku meledak , “Diaaaammmmm!!!!” Aku bangkit berteriak sekuat tenaga membentak Jimbron sambil membanting sikat gigi, lap dan pahat. Jimbron berdiri mematung, pucat  pasif. Ia seakan tak terpercaya aku membentaknya sekeras itu. Ia tak percaya kata-kata kasar itu terhambur dari mulutku. bibirnya bergetar, wajahnya pucat dan sembab dia sangat terkejut, Jimbron adalah laki-laki lemah lembut dan tak pernah dikasari siapa pun. Pendeta Geovanni telah memebesarkannya dengan budi dan tutur kata yang baik.
Seketika itu aku menghampirinya melepaskan selang yang melingkar di lehernya. Jimbron masih shock dan benar-benar terpukul. Sahabatku banyak hal yang lebih positif di dunia ini, banyak hal yang amat menarik untuk dibicarakan selain kuda-kuda itu. Bukankah kau sependapat kalau persoalan kuda ini sudah berlebihan. Tiba-tiba Jimbron meraih tanganku, menyalaminya dengan erat. Senyumnya manis dan pasti. Ekspresinya jelas mengesankan bahwa ia telah meninggalan masa lalu yang kelam bersama kuda-kudanya. Kemudian dia memanggilku penuh rahasia dan bersemangat. Sebuah panggilan bermakna ungkapan terima kasih. Ia sangat terharu terhadap kemampuanku menyembuhkan penyakit gila kudanya yang telah kronis.
“ Ikal…!!! “
“Ya. Jimbron saudaraku yang baik ??? ”
“Sudah pernahkah kuceritakan padamu soal kuda poni …???  ”
***
Mozaik 12
Sungai Lenggang

Aku selalu berlari. Aku menyukai berlari, para kuli ngambat adalah pelari. Aku berlari berangkat sekolah. Amboi, aku senang sekali berlari. Aku senang berlari menerobos  hujan, aku tak ernah kelelahan berlari. Tubuhku ringan, kecil, dan ramping dengan rambut ikal panjang. Aku selalu berlari pulang sekolah tapi siang ini. Aku terkejut melihat tiga orang di dalam restoran : Aku sendiri, Arai dan Jimbron tengah membereskan puluha piring kotor yang berserakan di atas meja. Aku ketakutna orang lain menjelma menjadi diriku. Aku kabur pontang-panting. Berhari-hari aku memikirkan kejadian aneh itu.
Aku sendiri, Arai dan Jimbron yang kusaksikan membersihkan meja di restoran, menjadi kernet, dan pedagang kweni. Aku sadar berada dalam pergaulan remaja Melayu yang seharian banting tulang. Kini aku telah menjadi pribad yang pesimistis. Malasa belajar. Berangkat sekolah dan pulang lariku tak lagi deras. Buat apa aku bersih tegang urat leher berdebat di kelas soal geometri ruang Euclidian yang rumit, jika tersisa untukku ruang los sempit 2 x 2 meter di dermaga. Demi tuhan sahabatku Jimbron memang makhluk yang luar biasa. Meski peningkatan prestasinya mengesankan, ia baru saja mempersembahkan tempat duduk 128 pada Pendeta Geovanny dari nomor kursi 78 semester sebelumnya, tapi ia sangat optimis. Minggu lalu ia memesan sesuatu pada mualim kapal, sahabatnya, yaitu celengan kuda di Jakarta. Dan hari yang din anti ia senang tak terperi karena celangan sebesar anak kambing itu datang.
Bangga suaranya, senang hatinya, dan cerah wajahnya.ia melenggang, memindahkan tabungannya dari bawh kasur dan membaginya rata dua bagian dalam kuda putih dan kuda hitam. Setiap ia mendapat upah dari nahkoda, dibaginya dan dimasukkan ke dalam kedua celengan kuda itu. Kami hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Aku dipanggil Pak mmustar. Dengan gaya orang Melayu tulen aku disemprtnya habis-habisan karena nomor kursi yang akan kuberikan untuk ayahku sekarang adalah 75 dan aku dianggap Malin Kundang. Suara Pak Mustar penuh dengan sesal. Aku terharumelihat mata Pak Mustar yang berkaca-kaca. Seketika undangan itu telah didepan mataku yang nantinya akan diberikan kepad ayahku. Aku membayangkan apa yang dialami ayahku, tak lagi kudengar tepuk tangan ketikanama ayahku dipanggil untuk mengambil raporku.. aku terpuruk dalam penyelasan. Betapa aku ini anak yang tak berguna !! Betapa sampai hati pada ayahku.
Detik demi detik, akhirnya beliau meninggalkan aula, langkahnya ttap tenang seperti dulu. Beliau menghampiri kami dengan senyum kebanggannya yang tak luntur sedikit pun, persis seperti dulu saat aku berada digarda depan. Aku tertun duk  diam, hatiku hancur dan air mataku mengali, aku terseduh sedan melihat ayshku menaiki sepedanya dan tertatih-tatih mengayuhnya meninggalku. Dadaku ingin meledak memandangi punggung ayahku perlahan-lahan meninggalkan halaman sekolah. Arai menumpahkan kemarahannya kepadaku dan aku membelakanginya. Arai sangat geram padaku, aku tersentakdan terpaku memandangi ayahku sampai jauh, bentak-bentakan Arai berdesingan dalam telingak, membakar hatiku.
Aria berteriak. Suaranya lantang memenuhi lapangan luas sekolah kami, menerobos ruang-ruang gelap kepicikan dalam kepalaku. Seketika mataku terbuka untuk melihat harapan besar yang tersembunyi di dalam hati ayahku. Ayahku yang diam, tak pernah menuntut apa pun. Aku bergetar lalu aku berlari menyusul ayahku dan aku mulai berlari. Aku menolak ajakan kendaran yang melewatiku dan aku berhasil menyusul ayahku, beliau sangat terkejut dan tersrnyum. Sebuah senyum  lembut penuh kebanggan. “ Ikal..” h sepedanya, beliau duduk di bela
Kuambil alih mengayuh sepedanya, beliau duduk di belakang. Tangan kulinya yang kasar dan tua memeluk pinggangku. Ayahku yang pendiam: ayah juara satu seluruh dunia. Mayahari sore yang hangat bercampur dengan angin yang dingin, membelai-belai kami melalui jembatan kayu. Di bawah kami sungai purba Lenggang mengalir pelan. Gelap dan dalam. Hulunya menyimpan sejarah pilu orang-orang miskin Melayu, anak-anak sungainya adalah misteri yang mengandung tenaga mistis dan riak-riaknya yang berkecipuk yang bertepi untuk ayahku.
***
Mozaik 13
Pangeran Mustika Raja Brama

Aku datang menemui Jimbron untuk memberitahukan bahwa Capo akan memelihara kuda. Ketika telah mendengar berita itu jimbron seperti orang disambar petir. Napasnya cepat, badannya seperti kayu dan bicaranya pun gagap. Berita tentang kuda itu sudah tersebar dimana-mana. Banyak komentar, karena di desa kami tak ada satupun kuda. Jangankan kuda keledai pun tak ada. Karena berita itu Jimbron jadi sering melamun. Seminggu telah berlalu kuda-kuda itu pun datang, semua orang kagum akan keelokan dan kecantikan kuda-kuda itu dan mereka sangat kagum dengan kuda putih yang gagah bukan main. Jimbron menamakan kuda putih itu Pangeran Mustika Raja Brama. Setelah melihat kuda-kuda itu. Beberapa bulan, Jimbron tidak teratur waktu kerja dan waktu istirahatnya. Ia pun sering melamun. Hari Minggu, kebiasaan aku dan Jimbron adalah seusai shalat subuh kami tidur kembali sampai Adzan dzuhur. Ketika kami baru mau tidur, kudengar suara ketukan jendela. Kami pun ketakutan dan saling berhadapan. Ketika suara mulai sunyi aku memberanikan diri untuk membuka jendela itu. Ketika melihat keluar jendela, aku kaget dan jantungku seakan mau copot. Saat aku melihat Pangeran Mustika Raja Brama didepan jendela dan sambil menganggukan kepalanya. Lalu Jimbron pun keluar dan mendekati Pangeran Mustika Raja Brama, setelah itu ia dan Pangeran jalan-jalan disekitar pantai. Tapi, tiba-tiba Jimbron memacu Pangeran keluar garis pantai, aku dan Arai mengejar Jimbron sampai di Pabrik Cincau. Di Pakbrik Cincau, Laksmi yang sedang bekerja disana kaget karena Jimbron tiba-tiba diatas punggung kuda Pangeran yang kondang itu. Jimbron tersenyum bangga, lalu ia menyentak les yang tersambung pada kedali yang mengakeng mulut Pangeran. Pangeran paham, lalu hewan yang sangat berat ini menaikkan kedua kaki depannya tinggi-tinggi setengah dari tubuhnya dan menendang-nendang kakinya ke udara lalu meringik dahsyat memecah langit, Laksmi tersenyum. Ia memandangi Jimbron dan senyumnya semakin lebar. Oaring-orang terhentak, setelah bertahun-tahun berlalu. Pagi ini pertama kalinya mereka melihat Laksmi tersenyum.
***
Mozaik 14
When I Fall In Love

Luas samudra dapat diukur, tapi luasnya hati siapa yang tau. Itulah hati Arai. Dua bulan ia menyerahkan diri pada penindasan Capo yang terkenal keras, ia kerja disana seperti kerja rodi, maka setiap pulang Arai selalu langsung pergi tidur karena ia babak belur, tapi semua ini Arai kerjakan demi Jimbron. Karena Jimbron ingin sekali mengendarai kuda putih itu. Selama Arai kerja disana, ia terus membujuk Capo agar memberi kesempatan pada Jimbron untuk mengendarai kuda putih itu (Pangeran). Setelah mengendarai Pangeran, Jimbron mencopot gambar kuda tersenyum didinding kami. Kemudian ia berusaha melukis wajah wanita yang kurus cantik, dengan senyuman menawan yaitu LAKSMI. Lalu dipasangkan didinding los kontrakan kami.
Setelah membawa Pangeran kehadapan Jimbron, Arai lansung keluar dari pekerjaannya dan kembali menyumbangkan tenaga dan pikirannya sebagai kuli ngambat. Arai selalu mementingkan kebahagian orang lain dibanding kebahagian diri sendiri. Ia sekarang seperti orang yang tidak mempunyai mimpi dan semangat sperti orang akan mati. Ikal ingin membahagiakan Arai. Ia ingin berbuat sesuatu seperti yang dilakukan Arai pada Jimbron dan yang selalu Arai lakukan padaku. Aku tau persis cara membahagiakan Arai yaitu dengan cara menyatukannya dengan Nurmala. Nurmala adalah pujaan hati Arai, Arai jatuh cinta Nurmala sejak ia mendaftar di SMA. Dan sejak itu ia telah mengirimi beratus-ratus kali salam untuk Nurmala. Tapi tak satupun yang ditanggapi dan begitu pula hal-hal yang lain telah dibuat Arai. Seperti, setiap hari Arai memberi bunga dan surat yang ditaruh dikeranjang sepeda Nurmala. Tapi, bukan Arai namanya kalau tak berjiwa positif, ia terus melakukan cara agar Nurmala jatuh hati padanya, walaupun Nurmala terus menghindari Arai.
Untuk mendapatkan gadis itu, Arai berguru soal cinta ke Bang Zaitun. Bang Zaitun adalah pria Flamboyan dalam dunia persilatan cinta. Ketika Arai dan aku kerumah Bang Zaitun kami disambut dengan ramah, Bang Zaitun orangnya humoris dan senang sekali bicara. Jika bicara Bang Zaitun selalu sekali ketawa dan tawanya itu…hi,,,hi,,,hi,,,hi,,,dengan tujuan untuk memamerkan kedua gigi emas putihnya itu. Lalu ia menceritakan keunikan dari mantan pacarnya dan kusampaikan kepada Bang Zaitun maksud kunjungan kami dan menanyakan kiat beliau Berjaya dalam asmara. Lalu Bang Zaitun masuk kedalam kamarnya, Bang Zaitun kembali dan membawa sebuah kotak besar. Ia membuka kotak itu dengan santai, didalamnya terdapat sebuah gitar lalu Bang Zaitun membelai gitar akustik itu seolah-olah itu adalah salah satu istrinya. Bang Zaitun memeluk  dan meraih Pick, lalu ia mulia memetik dawai dengan penuh perasaan sambil bergumam . Pada setipa tarikan melodi yang mengusik, Bang Zaitun menaikkan alisnya sembari mengumbar senyum termanis yang ia miliki dan pada saat itu pula hati perempuan yang memandangnya patuh berkeping-keping. Rahasia daya tarik Bang Zaitun terdapat pada gitarnya, Bang Zaitun menyarankan pada Arai untuk belajar bermain gitardan lebih bagus lagi jika dirancang sedikit kejutan, Nurmala pasti menoleh kepadamu.
Dan dua minggu berikutnya Arai baru mencoba menyanyi. Berminggu-minggu diulangnya lagu yang sama berpuluh-puluh kali. Dua bulan telah berlalu Arai tak menunujukan kemajuan. Padahal Arai telah menyiapkan kejutan pada saat hari ulang tahun Nurmala.
Hari ini adalah hari ulang tahun Nurmala, usai shalat Isya. Arai sudah berdandan rapi dan telah menyiapkan seikat bunga. Arai dan teman-teman menuju ke rumah Nurmala, sesampai di rumah Nurmala. Arai langsung menyanyikan satu lagu untuk Nurmala yang berjudul When I Fall In Love. Tapi suara  Arai serak dan Nurmala juga tak muncul, akhirnya Arai, Ikal dan Jimbron pulang dengan hati hampa dan sedih. Sungguh mengerikan hidup ini kadang-kadang.
***
Mozaik 15
Ekstrapolasi Kurva yang Menanjak

Dari tempat kami berdiri, di Pulau Belitong yang terpencil dan hanya berdiameter 50 kilometer. Cita-cita kami adalah sekolah ke Paris, sekarang aku memiliki filosofi baru bahwa “Berbuat baik pada titik dimana aku berdiri, itulah sesungguhnya sikap realitas ”. Maka sekarang aku adalah orang yang optimis, jika kuibaratkan semangat manusia bagaikan sebuah karva ,grafik. Maka sikap optimis akan membawa karva itu terus menanjak.
Pada pembagian rapor terakir saat tamat SMA. Aku kembali mendudukan ayahku dikursi nomor tiga. Arai melijik kekursi nomor dua. Jimbron sedikit membaik prestasinya dari 128 menjadi kursi 47 dan Nurmala berada dikursi nomor satu sejak kelas satu. Nurmala akan segera meninggalkan Belitong untuk menjalani rencan 5 tahun plus 2 tahun konservatifnya. Menjelang perpisahan, Arai akan menyiapkan sebuah rencana lagi untuk Nurmala. Arai akan kembali melantunkan lagi di pekarangan rumah Nurmala, tapi kali ini secara Iip-synchdan berhari-hari Arai melatih gayanya dibawah arahan Bang Zaitun. Tidak cuma itu, Bang Zaitun juga mendandan Arai agar terkihat ganteng didepan Nurmala.
Usai Magrib, kami menerobos ladang jagung. Arai melangkah hati-hati karena tidak mau mengotori setelan jas putihnya. Kami mengendap dibalik ilalang  setinggi lutut yang membatasi kebun jagung dan halaman rumput pekarangan rumah Nurmala. Lalu Arai mengawali nyanyiannya dengan retiakan seraknya yang khas, mengalirlah ke udara lenkingan syahdu Ray Charles. Sungguh hebat Ray Charles bernyanyi. Pria buta itu seakan menumpahkan seluruh jeritan jiwnya melalui suaranya yang berat terseret-seret. Dan belum habis bait pertama berdirilah Zakiah Nurmala yang cantik, anggun semampai Gabriella Sabatini. Senyum yang susah ia tahan-tahan, manis tak terperikan. Seperti madu pada musim bunga meranti. Jelas sekali dia pecinta berat Ray Charles dan wajhnya seakan bertanya “ Bagaiman kalian bisa tahu aku penggemar Ray Cahrles? ”.
Ia pentas di lapangan rumput, demi meihat pujaan hati Nurmala senang. Nurmala tak hentinya tersenyum sampai bait terakhir lagu pun selesai. Nurmala mundur dan pelan-pelan menutup jendela , lalu mematikan lampu kamarnya. Arai lalu tersenyum melihat jendela yang tertutup rapat. Dan kami pun pulang dengan hati damai.
***
Mozaik 16
Ciputat

Kebiasaan adalah racun, rutinitas taklain adalah orang pembunuh berdarah dingin. Aku memandangi pasar ikan yang pesing ketika panas dan becek mengambangkan segala jenis limbah ketika hujan, bioskop bobrok sarang berbagai jenis kutu dan hewan pengerat, kamar sempit kontrakan yang nyamuk sudah kebal pada berbagai jenis racun serangga dari yang dibakar, disemprot dan juga dilistrik.
“Merantau, kita harus merantau, berapa pun tabungan kita, sampai di Jawa urusan belakangan,” Arai yakin sekali dengan rencana ini. Kami ingin mengunjungi Pulau Jawa yang  gemah ripah lohjinawi itu dan berspekulasi denag nasib kami.
Di Jawa kami memperkirakan uang tabungan kami hanya cukup untuk hidup enam bulan. Jika selama enam bulan itu kami tak mendapatkan pekerjaan, maka nasib akan kami serahkan pada Pencipta Nasib yang bersemayam di langit itu. Kami akan berangkat dari Dermaga Olivir ke Tanjung Priok, naik kapal Bintang Laut Selatan. Kapal itu bukan kapal penumpang melainkan kapal barang dagangan kelontongan dan ternak. Kami bisa menumpang karena mualimnya kami kenal . Dia member tujuan bahwa, Jakarta Selatan. Tempat itu lebih aman dibanding Jakarta lainnya. Sampai di Priok, cari bus ke Terminal Ciputat.
Hanya itulah petunuk yang kami pegang dalam perantauan mengadu nasib ini. Aku dan Arai pulang untuk berpamitan pada ayah dan ibuku. Kedua orangtuaku tak banyak komentar. Mereka hanya menitipkan pesan yang mereka ucapkan hamper bersamaan. “ Yang pertama yang ahrus kalian temukan adalah Masjid….”. ketika membereskan tas, Jimbron menghampiri aku dan Arai. Ternyata Jimbron memberikan memberikan tabungan kuda Sumbawanya untuk kami berdua.
Jimbron sangat baik kepada kami dan kami tersentuh dan menghampiri Jimbron dan memeluknya. Ketika berpisah, semua memberi nasehat kepada aku dan Arai, ayahku langsung memelukku dan Arai dan memperlihatkan senyum kebanggaannya. Aku dan Arai memeluk celengan kuda dan berdiri di haluan waktu kapal menarik sauh. Pelan-pelan kapal hanyut meninggalkan dermaga. Hatiku menjadi dingin, pipi kami basah, betapa kami merindukan mereka, kupandangi pulau kecilku yang porak poranda karena kerakusan manusia.
Bintang Laut Selatan telah dipeluk samudra. Nahkoda menghidupkan mesin utama dan di buritan kuliahat luapan melonjak-lonjak karena karena tiga baling-baling menerjang air. Aku berpegangan erat pada besi pagar haluan saat kapal mulai diayun ombak musim barat, kepalaku tak henti mengingat satu kata yaitu CIPUTAT. Sampai lima hair berikutnya kami mabuk terus-meneru. Dan dalam penderitaan itu kami harus mengepel dek dan palka, membersihkan WC dan memasak empat kali sehari.
Hari keenam, pukul satu siang , aku yang sudah babak belur compang-comping, iseng-iseng mendongakkan kepala keluar lubang palka dan alangkah terkejutnya, nun jauh di sana, sayup-sayup di garis horizon biru itu kulihat benda kotak-kotak bermunculna timbul tenggelam. Berulang kali kami mengintip kotak-kotak tersebut yang rupang bangunan-bangunan tinggi Jakarta. Semua perasaan mual dan lelah menguap karena ekstase akan segera sampai di Jakarta.
Setelah empat jam, menjelang Magrib baru kapal merapat. Aku dan Arai berdiri tegak di haluan dan gemetar melihat demikian banyak manusia di Tanjung Priok.
Aku memegang koper dan celengan kuda pemberian Jimbron dengan erat-erat. Kapal merapat ke bibir dermaga lalu kelasi tadi menibar jalinanjal disambut dua orang di bawah. Ia memberi isyarat pada kami agar turun. Kami melemparkan koper-koper kami ke atas jala itu dan merayap ke bawah. Dengan Basmallah, kami menginjak Jakarta. Kami tak berkata-kata karena serba terheran-heran, kami seperti anak bebek yang tersasar ke kandang kuda.
Kami berjalan menuju Terminal Tanjung Priok, sampai di sana kami semakin tercengang karena manusia semakin banyak. Di antara kepulan asap knalpot bus-bus itu kami kebingungan. Tiba-tiba seseorang merampas tasku dan tas Arai, kemudian melemparkannya ke dalam bus dan berkata “ Naik..!!!Naik…!!!” .
Malam turun. Satu per satu penumpang menghilang, bus sepi. Ciputat tak kunjung sampai. Aku dan Arai yang kelelahan tertidur pulas. Jika ada yang ingin mengambil koper dan celengan kuda kami, kami tak kan tahu. Tiba-tiba kami terperanjat. Aku membangunkan Arai. Kami tiba di sebuah terminal yang jauh lebih sepi dari Terminal Tanjung Priok. Sebuah jam yang ada di taman menunjukkan pukul 12 malam. Dua buah lampu neon panjang menyinari tulisan nama terminal itu: Terminal Bus Bogor.
Misi pertama menemukan Terminal Ciputat gagal. Kami terdampar di tempat yang tak pernah kami rencanakan sebelumnya. Kami berjalan meninggalkan Terminal Bogor tak tentu arah, terseok-soek menyeret koper. Belum jauh meninggalkan Terminal Bogor, di sebuah persimpangan yang di tengahnya berdiri sebuah tugu yang tinggi, aku dan Arai terhenti melihat sebuah took yang indah, di muka atas bangunan tersebut terdapat lisplang besar nama toko yang memesona itu yang tertulis KENTUCKY FRIED CHICHEN.
Di ambang pintu masuk ada patung seorang bapak gendut, ia bertongkat dan berkacamata. Ia juga berjas seperti Arai, bedanya ia memakai dasi kupu-kupu. Aku dan Arai masih terpaku, tak mampu mengalihkan pandangan dari toko yang indah seperti istana peri ini. Akhirnya, kami duduk dipinggir jalan di atas koper kulit buaya kami, sambil tetap menggendong celengan kuda.
Dan kami pun berlalu. Menyeret lagi koper kulit buaya kami dan menggendong celengan kuda pemberian Jimbron dan tak tahu mau kemana. Hujan pun turun. Gerimis, gelap, lelah dan dingin. Masih tak tentu arah, kami hanya melangkah saja sekenannya berpegang pada pesan orangtua untuk menemuka masjid. Nasib baik!! Belum jauh terminal kami menemukan sebuah gedung dengan tulisan yang membuat kami senang karena di SMA Bukan Main sudah sering mendengarnya yaitu Institut Pertanian Bogor (IPB). Lebih menyenangkan karena di belakangnya ada masjid.
Esoknya dengan mudah kami menemukan kamar kos di sebuah kampung di belakang IPB. Nama kampung ini sangat istimewa yaitu Babakan Fakultas, sungguh menyenangkan tinggal di kampung ini. Baru pertama kali aku melihat kehidupan mahasiswa. Apalagi mereka adalah mahasiswa IPB, mahasiswa-mahasiswi pintar yang bermutu tinggi. Di Babakan Fakultas aku kembali seperti anggota garda depan. Aku dan Arai tergoda pada setiap kata-kata ilmu mereka, namun kami sadar belum waktunya kami bergabung dengan civitas academica. Hari-hari berikutnya adalah malam-malam tak bisa tidur dan tak enak makan waktu menemukan Koran-koran merah yang memuat warta dan gambar penggorokan, perampokan dan pemerkosaan di sana sini yang hampir setiap hari jadi di kota.
Berbulan-bulan di Bogor berbekal selembar ijazah SMA kami tak kunjung mendapatkan pekerjaan. Bahkan hanya sekedar ingin memjadi penjaga toko susahnya minta ampun. Pada bulan keempat, dengan sangat terpaksa kami memecahkan celengan kuda Sumbawa dan kuda sandel itu. Terbersit perasaan bersalahku pada Jimbron. Tapi apa boleh buat, melamar kerja pun perlu biaya. Berubtung pada bulan kelima kami mendapat pekerjaan yang istimewa. Karena sang juragan memberi kami baju seragam yang elok yaitu sepatu hitam, celana panjang hitam, baju putih lengan panjang, dan dasi.  Setiap pagi kami di-drop di berbagai perumahan kelas menengah di Bogor, lalu kami mengetuk pintu demi pintu untuk menjual wajan teflon serta berbagai peralatan dapur. Kami tak memiliki secuil pun kualifikasi negoisasi dagan. Sebulan penuh kami tak mampu menjual sebilah sendok pun. Maka berdasarkan perjanjian yang telah diteken di atas materai, kami harus bersedia dipecat sebab wan prestasi. Lalu kami mendapat pekerjaan di pabrik tali. Pabrik ini memproduksi rupa-rupa tali mulai dari jalinan rami yang tak mungkin putus dengan diameter hampir setengah meter dan biasa dimanfaatkan untuk menambat kapal dengan bobot mati lima ribu ton sampai tali favorit para penggantung diri yaitu nylon  plastic diameter 30 milimeter. Sayangnya pabrik harus tutup karena bangkrut. Keadaan kami semakin kritis.
Suatu hari aku dan Arai tertawa terbahak-bahak ketika memfotokopi sebuah brosur. Rupanya ada sebuah seminar hebat dengan tema ilmiah yag sangat bombastis yaitu Membongkar Kepalsuan Etika Patriarkal: Upaya Kultural Untuk Mengangkat Harkat dan Martabat Perempuan Dari Dominasi Laki-Laki. Di dalam brosur itu ada tulisan keynote speaker : Pengamat dan pembela harkat dan martabat wanita. Di bawah kalimat itu ada foto sang keynote speaker. Dan kami terkesiap karena kami mengenal dengan baik sang pembela harkat ini. Ia tak lain adalah wanita yang menggendong anjing pudel, tak berpakaian apa-apa kecuali dua curik kecil merah, di bioskop kecoak waktu kami SMA dulu. Sungguh menakjubkan bagaimana seseorang bisa memutarbalikkan citranya. Ia yang sama sekali tidak pandai berakting dan di sepanjang film murahan itu tampak jelas sutradara tidak mengalami kesulitan sedikit pun untuk memintanya melucuti bajunya, lenggak-lenggok di tempat jemuran cucian dengan hanya memakai carik tali-temali untuk menutupi kehormatannya yang terakhir tak ragu sedikit pun merendahkan harkat dan martabatnya sendiri, kini ia berubah menjadi pejuang harkat perempuan. Kami ikut senang dan ingin mengucapkan selamat untuknya.
Waktu itu masih pagi, fotokopi “Kang Emod” tempat kami bekerja, sepi karena mahasiswa  sedang libur, pekan teduh menghadapi ujian. Agar dapat bertahan hidup selama masih halal, kami sudah sampai tahap rela mengerjakan hal yang paling tidak kami minati sekalipun. Kami melamar menjadi pegawai baru di Kantor Pos Bogor. Pada tes kesehatan Arai gagal pada tes itu. Itu mebuatku cemas karena ada yang tak beres dengan paru-parunya. Sedangkan aku, ketika tes terakhir berupa tes fisik lomba lari, lansung yakin akan diterima. Aria kembali bekerja di fotokopi “Kang Emod”. Dan aku beserta puluhan caalon pegawai pos, dinaikkan kesebuah truk berwarna hijau, digelandang ke Pusat Pendidikan Perhubungan Angkatan Darat di Cimahi.
Setelah sebulan aku pulang ke Bogor. Dengan seragam seperti Tamtama, ransel ABRI dan kepala gundul, aku menghambur menuju rumah kos kami karena aku rindu pada Arai. Sebulan penuh aku tersekap di barak militer. Aku tidak dapat dihubungi atau menghubungi  siapa pun. Tapi di kamar kosku tak ada siapa-siapa, aku melihat sepucuk surat di bawah pintu. Lututku gemetar dan hatiku hampa membaca pesan di surat itu. Dengan sahabatnya dari pabrik tali, naik Kapal Lawit, Arai telah berangkat ke Kalimantan.
***
Mozaik 17
Wewenang Ilmiah

Selama pengalamanku bekerja, sejakkelas dua SMP, menjadi pegawai POS adalah puncak karierku. Meskipun hanya sebagai tukang sortir dan ini tak kusukai, tapi aku adalah seorang pegawai jawatan atau seorang amtenar, amtenar yang berangkat kerja dengan baju seragam. Hari ini para tukang sortir, petugas pos keliling desa dan para pengantar pos bersepeda dikumpulkan.
Ya, bermacam-macam surat ada di atas meja sortirku. Ribuan surat bertumpuk-tumpuk setipa hari. Namun , setiap kali kantong pos dicurahkan aku selalu berdoa dengan pedih semoga ada surat dari Arai untukku. Aria tak meninggalkan alamat dan tak pernah memberikabar. Aku mencari informasi tentang sahabatnya di pabrik tali dulu tapi laki-laki itu hanya seorang perantau dari Kalimantan yang tak jelas identitasnya. Aku kehilangan jejak Arai. Ibu mengirimkan surat mengatakan bahwa Arai sesekali mengirimi ibuku surat bahkan wesel, cap posnya dari Kalimantan, tapi ia tak member alamatnya. Pesan ayahku pada surat ibuku agar aku mencari Arai semakin merisaukanku. Aku sedih dan kehabisan cara menghubungi Arai. Aku tak tahu ke mana rimbanya Arai.
Tahun berikutnya aku diterima di UI. Aku mengatur jadwal shift menyortir surat sesuai dengan kesibukan kuliah. Aku merindukan Arai setiap hari dan ingin kukirimkan kabar padanya bahwa jika ia kembali ke Bogor ia dapat kuliah karena aku telah berpenghasilan tetap. Di UI Depok aku sempat bertemu dengan wanita cantik. Waktu itu aku sedang melintasi kerasak dan pepohonan karet. Aku memotong jalanmenuju Fakultas Ekonomi melewati jalur sutra di jalur itu bertaburan melihat mahasiswa FISIP.
Ikal …!!!Ikal….!! Panggilnya.
Aku menoleh dan tekejut. Mana mungkin Wan Azizah mengenlku? Mustahil Kate Winslet memakai kerudung. Ketika melihatku tadi ia sedang tertawa-tawa dengan temannya. Ternyata yang memanggilku adalah Nurmala. Aku senang bisa berjumpa Nurmala apalagi sekarang ia berjilbab. Bagiku jilbab adalah piagam kemenangan gilang-gemilang, kemenangan terbesar bagi seseorang perempuan Islam atas dirinya, atas imannya dan atas dunia. Dan rupanya ia juga telah masuk barisan wanita-wanita cerdas yang semlohai di FISIP UI. Kami berbincang-bincang, menyenankn sekali bertemu sahabat lama, apalagi ia membawa berita dari kampung karena ia sering pulang kampung.
Waktu yang pandai menipu demikian cepat berlalu. Tak terasa aku telah menyelesaikan kuliahku. Aku baru saja lulus kuliah, masih sebagai plonco fresh graduate, ketika membaca sebuah pengumuman beasiswa strata dua yang diberikan Uni Eropa kepada sarjana-sarjan Indonesia. “Possibility” kata Capo, maka tak sedetik pun kulewatkan kesempatan. Aku belajar kunjir balik bersaing untuk memperebutkan beasiswa itu. Setelah melalui berbagai tes yang panjang, aku sampai pada wawancara akhir yang menentukan. Pewawancaraku adalaha seorang mantan menteri, seorang professor yang kondang kecerdasannya. Ia masih aktif mengajar di program pascasarjana Universitas Indonesia dan menjadi dosen luar biasa di Harvard Business School.
Profesor itu tampak tertekan batinnya waktu melihat CV-ku. Saat melihat CV-ku, yang berdasarkan saran seorang sahabat harus dibuat sedetail mungkin, ia mengucek matanya berkali-kali saat membaca pengalaman kerjaku: salesman alat-alat dapur, karyawan kontrak di pabrik tali, tukang fotokopi dan juru sortir. Ia tak berminat sama sekali,kening  geniusnya berkerut-kerut. Ia malas menyentuh CV-ku.Namun, kawan, saat wajah yang ditutupi kacamata persegi empat berbingkai titan yang mahal itu menoleh barang 10 derajat kearah pukul tiga, kepermukaanproposal risetku. Mulutnya komat-kamit. Ia melungsurkan bingkai kacamatanya ke tengah batang hidungnya karena ingin melihatku langsung. Teriakannya tercekat dalam dua biji jakunnya yang bergerak-gerak turun naik seperti sempoa.
”Maksudmu transfer pricing!!!??”
Aku tak sempat menjawab karena ia melompat dari tempat duduknya. Ia dilanda hysteria, dadanya turun naik, ia seperti menemukan sesuatu yang telah demikian lama ia cari. Ia kembali berteriak, “sadarkah kau anak muda!!?? Modelmu ini berpotensi untuk menjadi teori baru dalam ilmu ekonomi mikro!! ”. Ia tersenyumriang penuh semangat, hilir mudik seperti bebek. Ia menggenggam proposalku seumpama sebuah temuan yang penting.
Transfer Pricing merupakan salah satu topic paling runyam dalam teori maupun pratik ekonomi mikro, professor yakin akan hal itu sebab model transfer pricing-ku dapat mengobservasi apakah operator menetapkan tarif interkoneksi yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sesame operator. Dan, sekarang ia ragu-ragu. Ia menatapku dari rambutku yang bergaya kuno, baju seragam lusuh poskuyang bergambar burung merpati, celana baggy kampungan yang dipakai orang rabun mpde berbadan pendek, sampai ke tali sepatu bata putihku yang kepanjangan.
“ Kau yakin dapat melakukan riset ini, juru sortir ? tanyanya prihatin “. “ Kau tahu, kan??”. Magnitude riset ini luar biasa, overwhelming!!
 Di dalamnya akan ada pengumpulan data yang luas, studi regulasi, kajian teknologi yang rumit dan yang akan memecahkan kepalamu karena modelmu merupakan model multivariate, maka akan terlibat matematika dinamik yang sangat  runyam!. Tak ada alasan bagiku untuk tersinggung karena aku sadar betul riset yang aku masuki. Setelah Profesor berbincang-bincang denganku dan sambil mengetesku.
Lalu aku berjalan santai melewati koridor dengan pintu berbaris dipinggir kiri kananku. “ Ini adalah gedung Pembangunan Nasional…”, Aku mendengar untaian kata-kata itu, dan suara itu seperti suara Arai !! Pasti Arai !!! Dan aku semakin yakin ketika mendengar argumentasi dashyatnya. Hatiku bergetar, aku tahu pasti Arai ada di sini. Ternyata betul, betapa aku merindukan sepupu jauhku ini, Arai sekarang tampak lebih dewasa, sinar mata nakal yang iseng itutak berubah, tapi warna kulitnya terang.
Dan sekarang ia tampan, hidung yang dulu mengumpul di tengah wajahnya dan kening yang menonjol kini n tertarik kebawah mengikuti mukanya yang tumbuh lonjong. Ia kuliah du Universitas Mulawarman, Jurusan Biologi, lulus cum laude.  Jika mengenal Arai, tidak aneh sebenarnya bahwa jika ia tahu aku akan melamar beasiswa ini, dan telah melihatku ketika pelamar beasiswa tumplek blek di stadion saat seleksi awal. Diam-diam ia kos di Jakarta dan memang berniat menemuiku saat wawancara akhir ini. Itulah Arai, seniman kehidupan sehari-hari. Aku mengundurkan diri dari Kantor Pos Bogor. Aku dan Arai untuk pertama kalinya pulang kampung ke Belitong. Kami telah memenuhi tantangan guru SD- ku, Bu Muslimah dan Pak Mustar, yaitu baru pulang setelah jadi sarjana. Aku bangga mampu menyelesaikan kulah di Jawa tanpa pernah mendapat kiriman selembar pun wesel. Kami menitipkan alamat rumah ibuku pada secretariat pengurus beasiswa agar dapat mengirimkan hasil tes kami ke sana.
***
Mozaik 18
Episiklus

Aku dan Arai menyergap ketika ia sedang memasukkan anknya ke dalam keranjang besi, yang dibuat khusus agar dapat dicontolkan pada setang sepeda, begitulah cara orang melayu membawa anaknya naik sepeda. Ia terkejut bukan main, Jimbron langsung merah anaknya dari keranjang besi, ia mengangkat anaknya tinggi-tinggi sambl berteriak girang. Lalu kami berkunjung ke rumah Jimbron yaitu los kontrakan kami dulu yang sedikit diperluas. Ia masih bekerja di peternakan Capo dan tak melepaskan tiga(3) gambar didinding los kontrakan itu Jimbron, Laksmi dan Kak Rhoma. Setalah itu aku dan Arai pulang ke rumah.
Berhari-hari dan berbulan-bulan aku dan Arai berdebar-debar menunggu keputusan penguji beasiswa. Lima belas orang dari ribuan pelamar adalah peluang yang amat sempit. Kalaupun kami lulus, peluang aku dan Arai mendapatkan universitas yang sama di antara ratusan universitas di Uni Eropa yang tersebar mulai dari tepi yang paling barat Skotlandia sampai pinggir palng timur, yaitu universitas di negara-negara bagian di Rusia. Di sisi lain kami merasa pengumuman beasiswa ini sangat penting untuk menentukan arah kami selanjutnya. Setiap hari kam was-was menunggu surat dari Tuan pos. Ayahku yang sedang menyiangi pekarangan menghambur ke pinggir jalan mengambil surat dari Tuan pos. Beliau menyerahkannya padaku dan Arai.
Usai magrib ayah dan ibuku lansung duduk dikursi depan meja makan kami, kutahu ayahku gugup tapi ia berusaha setenang mungkin dan ibuku tidak dapat menyembunyikan kegelisahannya. Aku beranjak membawa suratku dan duduk di tangga rumah panggung kamu. Ayah-ibuku mengikutiku lalu duduk di kri kananku. Aku tak sanggup membuka surat itu maka kuserahkan pada ibuku. Ayahku menunggu dengan gugup, aku memalingkan muka. Ibuku membuka surat itu pelan-pelan dan membacanya. Detik itu aku langsung tahu bahwa aku lulus. Ayahku tersenyum bangga. Aku terbelalak ketika membaca nama universitas yang menerimaku. “Alhamdulillah,” kata ayah-ibuku berulang-ulang.
Kami bangkit menuju ruang tamu. Dari ambang pintu, kami melihat wajah Arai sembap berurai air mata. Ia membekap erat bingkai foto ayah-ibunya dan surat keputusan beasiswa itu. Mengatakan dengan lirih “Aku Lulus”. Ia sebatang kara dalam garis keluarganya. Hanya ia yang tinggal sendiri. Pada siapa akan ia beri tahukan, akan ia rayakan dalam haru dan gembira berkah yang sangat besar ini. Aku memandangnya dengan pilu dengan kembali teringat dengan anak kecil yang mengapit karung kecampang, berbaju seperti perca dan kancing tak lengkap, berdiri sendirian di depan gubuknya, di tengah ladang tebu yang tak terurus , cemas menunggu harapan menjemputnya. Ayahku menghampiri Arai. Arai menangis sesenggukan memeluk ayahku.
Aku mengambil surat kelulusan Arai dan membaca kalimat demi kalimat dalam surat keputusan yang dipegangnya dan jiwaku seakan terbang. Karena di kertas itu tertulis nama universitas yang menerimaku, di sana jelas tertulis Univesite de Paris, Sorbonne, Prancis.
***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar